Personal Branding

 3M + 3C: MARKET, TARGET “PEMBELI” BRAND KITA, SEBENARNYA SIAPA MEREKA, APA KARAKTER MEREKA, BAGAIMANA CARA BERPIKIR MEREKA, APA YANG DISUKAINYA. APAKAH PARA PEMBACA BLOG YANG DAPAT MENJADI PEMBACA BUKU ANDA YANG AKAN TERBIT? APAKAH CALON BOSS BARU ANDA YANG LEBIH MENARIK? APAKAH PARA TEMAN-TEMAN ANDA. MISSION, APAKAH SEBENARNYA “TUJUAN” ANDA. SAYA YAKIN BANYAK ORANG MENCIPTAKAN “BRAND” NYA SEKEDAR SEBUAH KEBETULAN SAJA, TAPI ANDA SELALU DAPAT BERPIKIR ULANG, MAKA MENGAPA TIDAK KITA KUATKAN LAGI BRAND KITA DAN MANFAATKAN DENGAN TUJUAN YANG SESUAI? ADANYA MISSION AKAN MEMBUAT KITA MAMPU “MEMILIH” APA YANG KITA PRIORITASKAN DAN APA YANG KITA HINDARI.

Setiap produk dan service dapat dijual lebih mahal bila memiliki “Brand”, mulai dari Louise Vuitton, Nike, Crocks, Banana Republic, Apple, Rolex, Starbucks, DHL, dan seterusnya. Kita hidup pada dunia merek. Tapi apakah kita telah membuat sebuah “Brand” untuk diri kita sendiri? Pada 1997 Tom Peters menulis tentang “A Brand Called You”, konsep awal personal branding. Brand bukan hanya milik bintang filem, pengusaha, Rock Band saja, tapi juga milik Joger, Tukul, Kick Andy. Mulai dari penyanyi, sampai politisi mengerti pentingnya hal ini. Lalu, apa yang membuat sebuah nama menjadi brand, dan upaya apa yang dapat anda lakukan untuk menciptakan sebuah “Personal Brand”?

Kita jelas tahu brand sangat menguntungkan, “PERSONAL BRAND” bisa mengangkat bisnis kita, menguatkan daya saing kita, dan memudahkan sukses dimana saja. Secara kebetulan beberapa orang terbentuk menjadi Brand yang baik. Beberapa orang menjadi “Brand” yang menarik. Blogging saja tidak cukup, punya 10.000 friends di facebook tidak menciptakan brand, apa rahasia dibalik “Personal Brand”? Meminjam dari “branding strategy” para pakar, inilah 3 M + 3 C (Market – Mission – Message, dan Content – Context – Connection) yang dapat anda pakai sebagai framework berpikir tentang personal brand anda.

3M + 3C: Market, target “pembeli” brand kita, sebenarnya siapa mereka, apa karakter mereka, bagaimana cara berpikir mereka, apa yang disukainya. Apakah para pembaca blog yang dapat menjadi pembaca buku anda yang akan terbit? Apakah calon Boss baru anda yang lebih menarik? Apakah para teman-teman anda. Mission, apakah sebenarnya “tujuan” anda. Saya yakin banyak orang menciptakan “brand” nya sekedar sebuah kebetulan saja, tapi anda selalu dapat berpikir ulang, maka mengapa tidak kita kuatkan lagi brand kita dan manfaatkan dengan tujuan yang sesuai? Adanya mission akan membuat kita mampu “memilih” apa yang kita prioritaskan dan apa yang kita hindari.

Message, apa yang ingin anda “sampaikan”? Seperti juga merek sebuah produk, atau seorang penyanyi atau aktor, selalu memiliki ciri khas, sebuah gaya, sebuah pesan, yang “cocok” untuk dirinya. Pesan yang tersampaikanpun perlu diperjelas kembali, supaya menjadi “khas” dan unik. Ketiga M tersebut merupakan framework strategi dan taktik pada penciptaan brand dan kampanye sebuah merek atau produk. Yang dapat kita coba sebagai landasan pikiran apa yang akan kita lakukan pada komunikasi kita: Message kita harus sampai pada “pelanggan” kita dengan pas. Ketiga C adalah pada pesan penyampaian strategi 3M kita. Content, “Isi” apa yang akan kita buat untuk membuat brand kita jadi “unggulan dan melekat”? Apakah ada pesan yang jelas pada blog dan website kita? Apa yang bermanfaat dan disukai oleh target market kita yang dapat menguatkan brand kita ini? Kita dapat memetik dan mengambil apa yang baik dari mana saja, yang terpenting adalah sinkron nya citra yang kita inginkan dan materi yang kita bagi pada target market kita. Context, “Cara penyampaian” dari pesan kita, bagaimana mengemasnya? Apa yang dapat membuat orang ingat akan diri kita.

Content dan context kita haruslah menciptakan “Talkable Difference”, perbedaan yang cukup layak untuk di-obrol-kan dengan teman2, sehingga dapat menciptakan word-of-mouth yang baik. Connection, “Hubungan” yang terjadi, apakah dengan temu langsung, radio, TV, filem, facebook, blogs, ataupun Blackberry, kita menciptakan “connection” yang “memorable”, hubungan yang akan diingat selalu oleh “customers” kita. Menjadikan diri kita “engage” atau memikat dan diingat dan diinginkan oleh mereka. Sebuah brand, kadang terjadi karena kebetulan, kadang disengaja, dan selalu akan memberi keuntungan pada kita, yang sebenarnya sah-sah saja, asal tidak “berlebihan”. Seorang profesional, harus berhati2 untuk “memakai” brand perusahaannya (anda adalah karyawan “perusahaan X”), bilamana brand anda dan brand perusahaan saling memberi sinergi dan disetujui atasan anda, maka ideal lah keadaan yang ada.

Butuh sensitivitas untuk menciptakan harmoni ini. Pembuktian diri: Butuh waktu, energi tinggi, dan hasil nyata, sebelum sebuah “Personal Brand” dapat menguntungkan diri anda. Berhati-hatilah dengan isi dan cara anda menyampaikan pesan-pesan anda. Kadang-kadang keterkenalan berlebihan bisa berbahaya. Branding, bukan mengatakan yang berlebihan, tapi melakukan yang terbaik untuk mendapatkan nama yang layak kita terima. Setiap individu dapat menciptakan “Personal Brand” nya, walaupun anda bukan Oprah, Steve Jobs, Tiger Wood, atau Tom Peters; setidaknya kita berupaya menciptakan “citra” yang baik untuk diri kita pada mata “pelanggan kita”. Marilah memulai menciptakan “Personal Brand” masing-masing kita sendiri yang lebih baik. Salam sukses untuk anda.

Salam kreatif

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama