Hijrah’s Steps

Hijrah adalah perjalanan panjang yang baru akan berakhir saat Allah memanggil pulang. Hijrah juga merupakan sebuah PROSES, bukan hasil. Ibarat meniti anak tangga, jika mau sampai ke puncak ya sunatullah-nya harus satu demi satu.

Makna Hijrah adalah Minna dzulumatii ilannuur, yaitu perjalanan dari gelap menuju cahaya. LUAS. Maka Hijrah terkait pada semua aspek yang muaranya sama, yaitu mampu mendekatkan diri kita pada Allah. Bisa hijrah pemikiran, lingkungan, kebiasaan, penampilan, perkataan, atau apapun.. yang pastinya ke arah yang lebih baik, yang Allah ridhoi.

Dan siapapun yang berhijrah butuh TUNTUNAN, bukan TUNTUTAN. Butuh KELEMBUTAN, bukan PENGHAKIMAN. Kenapa? Sebab setiap orang punya garis start perubahan yang berbeda, sehingga waktu untuk berprosesnya pun tak sama. Saya bicara begini karena baru-baru ini saya mendapatkan sebuah pembelajaran besar. Silakan ambil hikmahnya.

***

 

Saya punya teman seorang model. Kerjaannya catwalk, lenggak lenggok pakai busana desainer yang seringkali menonjolkan lekuk tubuh, hingga memamerkan beberapa bagian yang sebetulnya aurat. Sungguh di dunia modelling, hal tersebut adalah hal yang lumrah. Sudah 4 tahun dia karir begini.

Karena teman dekat, dia sering curhat. Sebetulnya jauh di dalam hatinya dia nggak mau karir begitu, tapi ya sejak dulu penghasilannya dari sana. Dia terlalu takut tidak dapat pekerjaan lagi jika tidak disana. Saya menatap matanya, “Hey.. mustahil Allah sempitkan rezeki orang-orang yg berjalan mendekati-Nya.” Eh gemeter ternyata dia dengernya. Memang kalau Allah sudah ‘turun tangan’.. bahkan kalimat sederhana sekalipun bisa menjadi jalan penguatan seseorang.

Maka setelah berhari-hari merenung, teman saya ini memutuskan berhijrah dengan step awal: pakai kerudung. Pas ketemu, kaget saya.. malah makin cantik. Dia bilang, “Bismillah.. ini bukti aku sebagai hamba pengabdian, bukan sekedar hamba penciptaan..” Ya Allah *netes

Tapi nggak lama dari itu.. ujian pertama datang. Agency model tidak memperbolehkan dia catwalk kecuali buka kerudung. Duarr! Nangis.. Saya genggam tangannya, saya bilang.. “Allah sedang memvalidasi perkataanmu dan menguji kesungguhanmu. Coba cek QS. Al Ankabut ayat 2..”


Meski masih berat, dia mencoba meyakini isi QS. Al Ankabut ayat 2 tersebut dan bertahan mengenakan kerudung. Dia pun ‘mengeluarkan diri’ dari pekerjaan lamanya. Tapi setelah itu ia jadi rendah diri karena takut tidak diapresiasi seperti waktu karirnya dulu.

Sampai suatu hari, waktu saya ngisi di suatu acara muslimah, saya ajak dia. Saya niat berbagi ‘panggung’ hehe. Ya kan basic-nya dia ini orang panggung, maka saya berbagi panggung, ikhtiar supaya kepercayaan dirinya bisa kembali. Ikhtiar ingin kasih bukti bahwa kualitas kemampuan tetap akan diapresiasi. Alhamdulillah dia mau. Bismillah..

Saya pun mempersilakan dia membuka acara sebelum saya sharing materi. Tapi ternyataaa.. karena baru hijrah, ex-model pula, ya kerudung sampai pakaiannya masih ketat. Peserta malah pada salah fokus, dan mencibir via twitter. Ada yang bilang muslimah setengah-setengah, dilabeli gak syar’i, hingga dibilang tidak pantas tampil kalau pakaian masih demikian. Ya Allah.. Beres acara ia nangis terisak-isak, “Aku mau lepas aja. Ternyata nggak ada yang menghargai proses dalam perubahan mendekat ke Allah.”

Sungguh saat itu saya kecewa. Bukan pada dia, melainkan pada muslimah yang menghakimi seperti demikian. Saya mencoba meraih tissue lalu saya berikan kepadanya yang masih terisak. Saya ikut sedih dan menjadi benar-benar kecewa. Spontan menyeruak dalam dada saya berbagai pertanyaan. Salah satunya, “Kenapa orang-orang mudah sekali men-judge?”

Saat itu saya mulai menemukan korelasi kewajaran atas kemalasan orang-orang yang dianggap ‘tidak shalih/shalihah’ berubah menjadi lebih baik. Ya wajar mereka demikian, wong baru belajar sedikit saja sudah dicaci maki sama umat muslimnya sendiri. Padahal Rasulullah mengajarkan kita menasihati dengan akhlak yang lembut, tutur kata yang santun.

Maka tepat di saat giliran saya naik panggung untuk berbagi materi tentang “Hijrah dan Hijab” yang lebih menekankan pada perjalanan seseorang mendekat pada Allah, dan salah satu simbolnya adalah berkerudung, seketika langsung saya ubah menjadi materi “Muslimah yang Termarjinalkan”. Ngeri..

Saya menyampaikan pada panitia untuk mengizinkan saya mengganti materi, dan mereka senang-senang aja. Alhamdulillah. Maka sebelum naik panggung, saya menghubungi tim yang mengurus slide dan backsound untuk menata ulang materi saya. Kemudian saya melakukan ritual wajib sebelum sharing materi, berdoa.

“Ya Allah.. para peserta ini milik-Mu, segala skenario kehidupannya milik-Mu, dan gerak langkahnya kemari Engkau yang hantarkan. Sungguh Engkau jauh lebih tau apa yang mereka butuhkan. Maka jika Engkau berkenan, izinkan hamba menjadi perantara atas apa pun yang hendak Engkau sampaikan pada mereka melalui materi nanti. Ya Allah.. genggamlah lisan ini, pikiran ini, gerak tubuh ini.. jadikanlah semua yang ada pada diriku sebagai alat-Mu memberi jawaban kehidupan pada mereka. Aamiin..”

Itulah doa rutin yang alhamdulillah selalu berhasil membuat saya tidak meninggi jika dipuji apabila peserta mengatakan bahwa isi materi menyentuh hati, sebab saya meyakini.. Allah lah yang sesungguhnya menyampaikan itu dan menyentuh hati mereka. Termasuk kali itu, saya sungguh berharap Allah membersamai.

Saya pun naik panggung dan berbagi. 2 jam berlalu, dengan hasrat yang menggebu namun sengaja ditahan agar tak kelebihan dosis dan berubah menjadi emosi, di hadapan para peserta yang memang mayoritas secara pakaian sudah sangat anggun, saya menekankan pada cara berdakwah Rasulullah dengan akhlak yang baik. Saya pun bertanya, “Siapakah objek dakwah kita?” Seorang peserta menjawab, “Mereka yang belum paham, teh.” Sungguh jawaban yang pas untuk saya masuk ke pemaparan nyata tentang kisah teman saya yang dicaci di atas panggung saat itu.

Saya jelaskan bahwa beliau mantan model yang baruuu saja pakai kerudung yang berubah jadi rendah diri karena baru ‘keluar’ dari pekerjaan lamanya yang tak memperbolehkan ia berkerudung. Saya bilang saya sungguh tau kualitas potensinya luar biasa bagus. Maka untuk mengapresiasi teman saya dalam mempertahankan kerudungnya, sekaligus ikhtiar meningkatkan kepercayaan dirinya, saya meminta dia membuka acara yang ternyata berakhir cacian yang tak pantas dilontarkan bagi seseorang yang tak tau apa-apa. Saya mengakhiri dengan sebuah pernyataan, “Jangan-jangan objek dakwah utama kita adalah diri kita sendiri.”

Tepat sebelum menuruni panggung saya berkata, “Bukankah kita ini bersaudara? Dan bukankah sesama saudara harus saling menyayangi? Sungguh rasa sayang itu seharusnya menenangkan. Bismillah.. semoga Allah mengampuni segala khilaf kita.” Kala itu saya menyampaikan dengan tenang, tersenyum, namun serius.. Beberapa orang tertunduk malu. Saya meneteskan air mata.

***

Jangan sampai karena merasa lebih baik membuat perilaku atau perkataan kita justru menjadikan orang enggan berubah baik. Bukankah bayi pun awalnya digendong dulu, lalu merangkak, berjalan, barulah ia bisa berlari? Ada PROSES yang tak bisa dipangkas. Hijrah yang berhubungan dengan penampilan pun demikian. Dituntun sebagai teman, melalui pemahaman.


Saya pun mengalami proses hijrah penampilan seperti demikian. Apakah bisa? Ya bisa. Dan itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Bertahun-tahun lamanya, dengan berbagai konflik, pertentangan, dan ego di dalam diri. Hingga akhirnya pemahaman bertambah, dan semua berubah.. sedikit demi sedikit. My Hijrah’s Steps.

Tidaklah pantas keluar dari mulut seorang muslimah perkataan yang merendahkan, yang menyiratkan diri yang berbicara sudah jauh lebih baik. Siapa yang tau derajat seorang hamba di hadapan Allah? Ya, hanya Allah saja. Maka jangan menerka-nerka atau menduga-duga. Kita tidak tahu perjuangan apa yang sedang dihadapi mereka yang tampak sulit berubah. Sungguh saya sepakat bahwa yang baik memang perlu disampaikan, tapi tak perlu menghantam perasaan.

Lagipula orang-orang yang baru belajar biasanya lebih tulus, dan niatnya masih lurus. Terlalu dini menyimpulkan bahwa diri ini lebih baik. Bayangkan kalau bayi kita paksa langsung berlari? Pasti tersiksa. Kasihan kan.. Maka ya pelan-pelan, supaya kokoh.

Sekali lagi. Kita tidak bisa memangkas proses. Jika mau bantu? Berikan apresiasi atas setiap pencapaian, it will help.. Juga jangan fokus terus mencari celah orang lain, namun lalai membenahi diri sendiri.

“Helping OTHERS, start from help OURSELF first.” – Great Muslimah’s Vision

Namun ini juga bukan pembenaran bagi kita yang belum sempurna. Tetap harus bertumbuh. Terus belajar dan terus belajar. Perlahan tapi pasti, bergerak mnyempurnakan diri, sesuai dengan tuntunan yang Allah sukai. Luruskan niat, semoga Allah ridho.

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama