Alhamdulillah dapat Musibah

 Jika alur kehidupan ini digambarkan dalam bentuk grafik, tak seorang pun memiliki grafik dengan alur garis hidup yang statis. Pastilah ada garis yang turun dan ada juga yang naik. Memang begitulah ciri khas orang hidup. Perhatikan saja alat pendeteksi detak jantung di rumah sakit. Jika masih bergerak turun naik dan bunyinya masih “beep beep beep beep..” maka tandanya pasien tersebut masih hidup. Tapi jika bunyinya sudah “beeeeeep…” panjang dengan grafik lurus, inalillahi wa inna illahi roji’un, selesai sudah.

Ini menjelaskan sebuah kewajaran bahwa dalam alur hidup yang tak lurus ini, kita akan menemukan fase-fase puncak dalam kondisi tertentu. Termasuk di dalamnya ada puncak kejenuhan, puncak kesedihan, puncak kegelisahan, puncak amarah, puncak kekesalan, dan lain-lain. Tak bisa dipungkiri bahwa kita adalah manusia yang tercipta dengan segala kekayaan rasa, hingga tak bisa mengenyahkan kemungkinan untuk menghadapi fase-fase puncak tersebut.

Kita pasti pernah mengalaminya. Mungkin juga sering. Tentu wajar, sebab kita adalah manusia. Seorang manusia yang selama hidupnya terus diberikan serangkaian peristiwa untuk menguji dan memvalidasi, sejauh mana keteguhan diri ini terhadap janji untuk selalu taat dan beribadah kepada Allah, juga untuk selalu menempatkan Allah di posisi tertinggi hati.

Sepahit apapun kejadian yang hadir, meski diri ini sudah kelelahan untuk bertindak atau sekedar berkata-kata, tapi keyakinan ini tidak boleh lelah untuk selalu berpegang kuat pada kepercayaan bahwa Allah tidak pernah menghendaki kesukaran pada hamba-Nya. Lagipula, semua beban yang ditimpakan pada kita.. semua sudah diukur, sesuai kemampuan kita.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat pahala dari kebajikan yang dikerjakan dan dia mendapat siksa dari kejahatan yang diperbuatnya.” QS. Al Baqarah: 286

Dan memperkuat keyakinan ini, saya pernah mendengarkan sebuah kisah tentang Rasulullah SAW, yang membuat saya justru sangat bahagia dan bersyukur ketika mendapatkan episode kehidupan yang sedang turun, bahkan hingga menyentuh titik terendah. Semoga ini menguatkan Anda juga..

***

 

Suatu hari seorang pemuda menemui Rasulullah SAW dengan wajah gusar, nampak gelisah dan begitu khawatir. Perlahan pemuda tersebut menghampiri Rasulullah SAW dan bertanya, “Wahai Rasulullah.. betulkah segala perbuatan kita, baik maupun buruk, akan dibalas? ” Wajah pemuda tersebut sungguh risau. Rasulullah dengan akhlak yang selalu saja terpancar dari wajahnya, tersenyum teduh dan menjawab.. “Tentu saja, janji Allah itu pasti. Tiada yang lebih pasti dari janji-Nya.”

“Barangsiapa mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan mendapat balasannya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat balasannya pula.” – QS. Al Zalzalah: 7-8

Melihat wajah pemuda yang semakin gusar, Rasulullah pun bertanya, “Wahai pemuda.. apakah gerangan yang membuatmu begitu risau? Dan mengapa kamu bertanya demikian?” Pemuda itu pun menjawab dengan suara pelan, “Wahai Rasulullah.. aku merisaukan perbuatan-perbuatan dosaku yang aku pun tak sanggup menghitungnya. Sungguh berbuat dosa itu bisa sangat tak terasa. Aku khawatir akan balasannya di dunia maupun di akhirat kelak..”

Rasulullah kembali menatap pemuda tersebut dengan pandangan yang teduh dan senyum yang menentramkan hati, kemudian balik bertanya, “Wahai pemuda.. kamu pernah sakit? Pernah dikhianti? Pernah tak enak hati? Pernah gundah tanpa sebab yang pasti? Pernah mendapat masalah yang besar?” Mendengar rangkaian pertanyaan itu, pemuda tersebut mengangguk, “Tentu saja pernah ya Rasulullah..”

Rasulullah semakin melembutkan suaranya, “Sesungguhnya sakitmu, perasaan tak enak hatimu, kegundahan tanpa sebabmu, juga masalah-masalah besarmu itu Allah hadirkan ke dalam kehidupanmu.. untuk menggugurkan setiap dosa.. yang kau khawatirkan itu.” Mendengarnya.. pemuda tersebut berurai air mata, penuh syukur. Bersyukur sangat dalam karena baru menyadari bahwa segala hal yang dianggapnya musibah dalam hidup, ternyata adalah karunia, yang dihadirkan untuk menggugurkan dosa-dosa.

Di tengah pemahaman baru dan rasa syukur tersebut, pemuda tersebut itu kembali, “Wahai Rasulullah, seandainya saja seorang hamba telah habis dosanya namun masih diberikan beban dalam kehidupannya, lantas apa maksudnya?” Kembali dengan tenang Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya musibah memiliki dua peran yaitu sebagai penggugur dosa, atau peningkatan derajat. Dan keduanya tetap dihadirkan sebagai peringatan untuk kembali meluruskan niat dan menaruh kecintaan hanya kepada Allah saja. Dan supaya kamu bersyukur.” Seketika pemuda tersebut berlinangan air mata, tersenyum, dan berterima kasih.

***

 

Semenjak saya mendengarkan kisah tersebut, saya merasa sangat tercerahkan. Sebab ketika perjalanan kita memasuki fase yang anggaplah tak sesuai dengan harapan, hingga kemudian kita merasa tak enak hati, sedih, marah, kesal, bahkan hingga merasa tak sanggup lagi.. sesungguhnya semua itu dihadirkan untuk menggugurkan dosa-dosa saya di masa lampau, atau meningkatkan derajat saya di hadapan Allah. Mana diantara keduanya yang buruk? Tidak ada. Keduanya adalah karunia. Maka sesungguhnya musibah adalah anugerah Allah yang belum kita pahami maksud kehadirannya.

Percayalah.. Allah menghendaki kebaikan dan kemuliaan bagi hamba-Nya. Allah begitu menyayangi kita, sebagaimana pun kita seringkali tega mengkhiananti-Nya. Allah tak mau menunda pembalasan dosa kita hingga akhirat sebab Dia tau kita pasti tak punya kesanggupan menghadapinya, oleh karena itu Allah gugurkan semua itu di dunia. Kita-kita yang tak paham ini, yang banyak keluh kesahnya ini, sekarang sudah saatnya sadar akan hal ini.

Sekarang, dimana pun saya punya kesempatan berbagi, saya berusaha menceritakan hal ini. Dan saya juga membudayakan satu hal unik di lingkungan terdekat saya semisal keluarga, sahabat-sahabat saya, juga di komunitas Great Muslimah. Budayanya adalah.. ketika ada siapapun di antara kita curhat yang isinya keluh kesah atas peristiwa tak menyenangkan bagi dirinya, setiap yang mendengarkan harus dengan empati dan tersenyum teduh menyalami si pelaku curhat, untuk kemudian bilang, “Selamat ya.. kamu sedang digugurkan dosa atau ditingkatkan derajatnya, melalui hal tersebut.” Nyessss.. Ini sudah dicoba sejak beberapa bulan lalu dan rasanya sungguh menyenangkan. Tidak ada yang tersinggung sebab ini hanya berlaku pada orang-orang yang sudah mendengarkan kisah tentang Rasulullah di atas dan memahami hakikat musibah atas dirinya.

Namun terakhir.. ingat, meski demikian, musibah sekecil atau sebesar apapun tetaplah merupakan peringatan bagi kita untuk membenahi langkah kita yang barangkali sudah menyimpang jauh dari keridhoan Allah SWT. Kembalilah, sebelum terlalu jauh melangkah. Dan jangan lupa.. ketika dapat musibah.. bersyukurlah. Dan ucapkan pada diri sendiri, “Selamat ya..”

 

“Tak perlu merasa sendiri, sebab Allah tak pernah lari. Sungguh Dia ada, lebih dekat dari urat nadi.” – Febrianti Almeera

إرسال تعليق (0)
أحدث أقدم